Tragedi 11 September 2001 secara tak langsung telah memberi dampak buruk terhadap citra agama Islam di mata dunia. Oleh karena itu, saat ini merupakan momen penting bagi para pemimpin Islam di dunia untuk menunjukkan wajah Islam yang cinta damai dan penuh toleransi. Dunia harus mengerti bahwa terorisme bukanlah nilai Islam.
Demikian antara lain pemikiran yang berkembang dalam pembukaan Konferensi Pemimpin-pemimpin Muslim Se-dunia (Summit of World Muslim Leaders) di Hotel JW Marriott, Jakarta, Jumat (21/12)
.
Tokoh-tokoh yang mengemukakan pandangannya dalam pembukaan konferensi dengan tema Islam and the Future World of Peace tersebut adalah panitia perencana Taj Hamad, mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, Akbar Muhammad dari Nation of Islam, yang mewakili Louis Farrakhan, serta Dr Chung Hwan Kwak, Ketua Interreligious International Federation for World Peace and Unification. Acara ini diikuti 180 peserta dari 50 negara.
Tragedi 11 September 2001 telah menumbuhkan pertanyaan, bagaimana sebetulnya Islam yang sejati itu, dan bagaimana seharusnya umat Islam bersikap menghadapi dampak peristiwa tersebut.
Menurut Abdurrahman Wahid, untuk memahami reaksi umat Islam di Indonesia terhadap tragedi tersebut-di mana ada yang mengutuk serangan ke World Trade Center, namun ada juga yang menganggap Osama bin Laden sebagai pahlawan-haruslah dikaitkan dengan konteks pergerakan Islam di Indonesia.
Abdurrahman Wahid antara lain menceritakan bagaimana Piagam Jakarta yang mensyaratkan syariat Islam bagi pemeluknya pernah menjadi opsi untuk dimasukkan dalam konstitusi Indonesia.
"Pada awalnya, hal itu disetujui. Namun, kemudian pihak Kristen menolak. Hal inilah yang menyebabkan perwakilan Islam memutuskan untuk mengedrop Piagam Jakarta. Alasannya, karena kami ingin semua warga negara bisa berdiri sejajar. Menurut saya, para ulama sampai sekarang juga tetap berpendirian bahwa Piagam Jakarta tidak harus dimasukkan dalam konstitusi," katanya.
"Dengan pemahaman yang kontekstual terhadap Indonesia, kita bisa mengerti mengapa ada reaksi yang berbeda terhadap peristiwa 11 September. Namun, pandangan saya sendiri sudah jelas, saya menentang terorisme. Saya telah menggunakan seluruh hidup saya untuk mencintai kemanusiaan," kata Abdurrahman Wahid.
Namun, menurut Taj Hamad, suara-suara para pemimpin Islam yang menyuarakan toleransi dan perdamaian seperti itu "tenggelam" oleh pemberitaan yang menonjolkan suara-suara mereka yang meneriakkan jihad dan perang. Dengan demikian, pemahaman tentang Islam adalah pemahaman yang dangkal. Itu sebabnya, ia mengimbau kepada para pemimpin Islam di dunia untuk menemukan solusi bagaimana agar Islam dapat memberi kontribusi terhadap perdamaian dan keadilan.
Akbar Muhammad dari AS, yang mewakili Louis Farrakhan yang tidak dapat hadir karena sakit, mencontohkan betapa minimnya pemahaman Pemerintah AS maupun kebanyakan masyarakat AS terhadap Islam dan penganutnya. "Istilah-istilah yang diucapkan Presiden Bush seperti crusade, infinite justice, adalah kata-kata yang mencerminkan ketidakpekaan terhadap Islam," katanya.
Keseluruhan peristiwa pasca-Tragedi 11 September juga menunjukkan betapa AS segan untuk melakukan introspeksi terhadap kebijakan-kebijakannya. "Saya terkesan pada sebuah acara yang dipandu wartawan televisi Peter Jennings yang bertanya pada anak-anak tentang Tragedi 11 September. Dan, seorang anak bertanya, mengapa mereka begitu membenci kita? Inilah inti persoalan yang seharusnya dicari jawabannya," kata Akbar Muhammad.
Ia juga menceritakan bahwa dampak Tragedi 11 September sangat terasa bagi warga negara AS yang beragama Islam. "Begitu nama Muhammad dipanggil, seluruh kepala akan menengok dengan pandangan curiga. Kadang di dalam antrean kami harus menepi hanya karena nama kami. Percayalah, saya sangat mengerti kepedihan itu karena saya tumbuh sebagai orang kulit hitam di AS. Saya sangat mengerti rasa sakit akibat perlakuan diskriminasi karena saya tumbuh dalam sebuah negara yang diskriminatif," ujarnya.
Untuk membangun rasa percaya di antara Pemerintah AS dengan kaum Muslim pada umumnya, dibutuhkan suatu rasa saling percaya. "Untuk memperoleh itu, AS harus melihat dalam-dalam kebijakan luar negerinya dan apa yang telah ia lakukan pada dunia. Seandainya saja ia tidak terlalu arogan, maka AS akan melihat bahwa dunia akan menerimanya," kata Akbar Muhammad.
Nilai perdamaian
Sheikh Muzawi dari Inggris menggarisbawahi bahwa konferensi ini haruslah mampu membuat orang lain memahami nilai-nilai perdamaian Islam. "Sekarang adalah waktunya untuk membuat orang mengerti bahwa terorisme bukanlah nilai Islam. Apa yang harus kita lakukan sangatlah sederhana. Harapan saya, kita semua haruslah menginformasikan pada komunitas Islam mengenai prinsip-prinsip Islam," kata Muzawi.
Menyinggung mengenai hak asasi manusia (HAM), Muzawi mengatakan, "Kita harus memperjuangkan hak asasi manusia untuk semua orang, bukan hanya sebagian masyarakat saja. Kita sebagai Muslim bertanggung jawab untuk memberikan tuntunan yang benar. Inilah tantangan para pemimpin Islam. Kita semua datang dan bersama-sama menciptakan perdamaian," ucap Muzawi.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Alwi Shihab dalam forum yang sama mengemukakan konsep Islam dalam pluralitas. Saat ini, kelompok Islam moderat berupaya untuk mengangkat teks-teks Al Quran yang sifatnya damai dan bersahabat, walaupun pihak yang antitesis dengan harmoni ini mengatakan bahwa ada beberapa ayat Al Quran yang berisi sebaliknya.
Mengenai hal itu Shihab mengatakan, sebaiknya diambil teks-teks yang menganjurkan perdamaian, persahabatan, dan kecintaan. "Itu yang harus kita lakukan. Kita harus mendudukkan persoalan bahwa semua agama menghendaki kedamaian," kata Shihab.
Mengenai distorsi tentang Islam khususnya di dunia Barat, Shihab mengatakan bahwa saat ini seakan-akan mayoritas Muslim itu bersikap keras daripada moderat.
"Hal seperti inilah yang harus diluruskan bahwa mainstream Islam itu adalah yang moderat. Kita perlu memberikan penyuluhan, pengarahan, dan pendidikan bahwa sebenarnya Islam itu, seperti agama lain, juga menginginkan kedamaian," ujarnya.
Forum ini menurut Shihab hanya akan memberikan pencerahan baik bagi umat Islam maupun kepada orang-orang Barat agar jangan sampai menilai bahwa agama Islam identik dengan kekerasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar